Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Berkat Teknologi, Penanganan Penyakit Jantung Bawaan Tidak Perlu Operasi

Screen Shot 2019 09 23 at 1.44.45 PMSuara.com - Berkat Teknologi, Penanganan Penyakit Jantung Bawaan Tidak Perlu Operasi.

Penyakit Jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama

dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya, 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung, termasuk jantung bawaan pada anak.

Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan juga Ketua Terpilih PERKI, dr. Radityo Prakoso, SpJP (K), FIHA mengatakan, penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan masalah yang cukup menjadi perhatian dalam kongres AFCC tahun ini, karena merupakan kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir.

“Penyakit jantung bawaan (congenital heart disease, CHD) merupakan kelainan baik pada struktur maupun fungsi jantung yang didapat sejak masih berada dalam kandungan. Kelainan ini dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung, maupun pembuluh darah yang ada di dekat jantung. Akibatnya, dapat terjadi gangguan aliran darah di dalam tubuh pasien; misalnya terjadi sumbatan aliran darah, atau darah mengalir ke jalur yang tidak semestinya,” ujar dr. Radityo saat ditemui Suara.com, Jumat (20/9/2019).

Dewasa ini, sambungnya seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak (interventional pediatric cardiology), sebagian anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan terbuka.

“Sejak beberapa dekade terakhir, metode pilihan utama untuk menangani kasus PJB tertentu adalah prosedur intervensi menggunakan kateter (transcatheter closure). Intervensi menggunakan kateter memiliki beberapa keuntungan di antaranya risiko/ komplikasi operasi yang relatif lebih rendah, masa rawat di rumah sakit dan waktu pemulihan yang lebih singkat, serta biaya yang lebih murah," paparnya.

Selain itu, waktu pengerjaan tindakan juga lebih singkat. Data prosedur intervensi dari 13 rumah sakit di Indonesia menunjukkan terdapat sekitar 4.912 prosedur intervensi yang dilakukan di Indonesia antara tahun 2013-2016. Dari total tersebut, sekitar 29% (1.405 prosedur) dilakukan di RSPNJHK.

"Beberapa PJB yang sering ditemukan, seperti PDA (patent ductus arteriosus), ASD (atrial septal defects), dan VSD (ventricular septal defects) dapat dikoreksi dengan menggunakan ‘perangkat’ berupa Coils atau Amplatzer Occluder. Namun, tidak semua jenis CHD dapat diatasi dengan intervensi non-bedah. Pada jenis CHD yang kompleks, intervensi bedah akan diperlukan," jelas dokter Radityo lebih rinci.

 

 

Oleh:Ade Indra Kusuma, Vessy Dwirika Frizona
Sumber: https://www.suara.com/health/2019/09/20/151120/berkat-teknologi-penanganan-penyakit-jantung-bawaan-tidak-perlu-operasi