Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Pengalaman Menunggu di Rumah Sakit Ibu dan Anak

Pengalaman saya periksa kehamilan di rumah sakit swasta, dengan jarak sekitar 23 Km dari rumah kami. Banyak rumah sakit yang jaraknya lebih dekat bahkan dalam radius 2 km ada rumah sakit dan puskesmas yang dapat kami akses. Alasanya memilih rumah sakit adalah dokter spesialis kandungan yang sudah menangani kedua anak kami sebelumnya. Kontrol kehamilan saat itu, umur kehamilan 36 mgg dengan taksiran berat janin 3000 gr. Badan terasa berat dan nafas yang memendek, BAK pun terasa setiap jam. Mendaftar untuk periksa bisa dilakukan melalui telepon tapi urutan pemanggilan sesuai urutan kedatangan. Jadwal praktek dokter pukul 19.00-21.00, sehingga kami datang sampai rumah sakit pukul 19.00, berharap tidak menunggu lama.

Proses awal pemeriksaan dilakukan anamnesa dan triase oleh bidan. Setelah menunggu 2 jam, pukul 21.00 ada informasi bahwa dokternya harus operasi cito di Rumah sakit yang berbeda. Dengan wajah kecewa beberapa pasien bertanya-tanya berapa lama operasi . Berhubung rumah kami jauh, kamipun menunggu sampai dokternya kembali, sebagian ada yang memutuskan pulang. Setelah 1 jam menunggu kami menjadi gelisah, belum ada tanda-tanda dokternya datang kembali. Beberapa keluarga pasien mulai bergiliran bertanya kepada bidan, namun bidan tidak dapat memberikan informasi yang jelas dan pasti, mereka menjawab “ tunggu saja ya pak”. Mendengar jawaban seperti itu rasanya kami ingin pulang saja. Dengan perut besar dan waktu semakin malam, kedua anak kami yang ikut mengantar sudah tertidur, membuat suami saya ikut menanyakan kapan dokternya datang, dan mendapatkan jawaban yang sama.

Menunjukkan pukul 22.30 dokter terlihat dengan wajah tersenyum, seolah berempati dengan para ibu hamil menunggu. Sebelum masuk ruangan dokter itu menyampaikan “ maaf anda menunggu lebih lama, mari kita lanjutkan antrian berikutnya” kata-kata dokter seperti menenangkan para ibu yang berbadan besar, rasa lega mengganti gelisah yang saya rasakan. Setelah bidan memanggil satu persatu ,pukul 00.30 akhirnya nama saya di panggil “ ibu Titi Supriati silahkan masuk” mendengar suara yang memanggil langsung anak-anak kami terbangun, saya masuk ruang pemeriksaan dokter . Pemeriksaan dilakukan seperti biasa, menanyakan kondisi dan keluhan saya, mengajak anak-anak saya melihat gambaran USG adik bayi. Dokter menyampaikan kondisi saya dan rencana persalinan kepada suami “kondisi ibu sekarang baik, janinnya juga baik”. Diakhir pemeriksaan dokter kandungan menanyakan “ada pertanyaan? Bapak ibu sudah paham bila ada tanda-tanda persalinan, apa yang dilakukan?” pertanyaan dan penjelasan dokter seolah menunggu berjam-jam terlupakan.

Menunggu di panggil dokter pun merupakan hal yang biasa terjadi. Pengukuran kualitas pelayanan di Rumah sakit dan kepuasan pasien dinilai berdasarkan perspektif pasien. Yang sering menjadi keluhan pasien adalah waktu tunggu pelayanan sehingga dalam meningkatkan kualitas dan kepuasan pasien sebagai indikatornya adalah dengan mengurangi waktu tunggu (Rönnerstrand & Oskarson, 2018).

Kualitas Antenatal care bersifat subjektif tergantung dokter SpOG, yang menangani meskipun pelayanan rumah sakit secara umum dengan kualitas yang rendah namun pasien tetap memilihnya, dan pelayanan dokter sebagai standar kepuasan pasien. Secara keseluruhan Kualitas layanan dapat dilihat dari aspek keselamatan pasien, efektifitas, waktu janji temu, efisien dan kesetaraan. Waktu janji ketemu penting untuk dikelola supaya ibu hamil yang berisiko tinggi mempunyai waktu janji temu yang pendek(Ortiz Barrios & Felizzola Jiménez, 2016).

Pada pemeriksaan awal dilakukan assessment oleh bidan yaitu melakukan anamnesa mengenai riwayat penyakit keluarga dan riwayat penyakit dahulu serta dilakukan pemeriksaan Tekanan darah, berat badan dan keluhan yang dialami, rangakaian assessment ini sebagai triase. Triase dilakukan bidan melalui pendekatan personal yang bertujuan mengurangi perasaan sungkan untuk bertanya. Perhatian yang diberikan bidan melalui triase membuat kami merasa puas karena mendapatkan keterangan tentang kondisi saat ini dan mengantisipasi kondisi kegawat daruratan kehamilan(Evans et al., 2015). Setelah triase, dilanjutkan pemeriksaan dokter.

Penyampaian informasi keterlambatan dokter sebagai salah satu aspek komunikasi terhadap pasien namun memiliki dampak terhadap operasional rumah sakit(Dong et al., 2018). Kejelasan informasi menjadi salah satu indicator kepuasan pasien dari prespektif pasien. Meskipun kejelasan informasi mengakibatkan beberapa dari pasien memutuskan untuk pindah ke rumah sakit yang lain, dan menyatakan tidak puas. Tetapi pasien yang bersedia menunggu menyatakan puas karena ada informasi tentang kepastian waktu tunggu.

Referensi

  • Dong, J., Yom-Tov, E. & Yom-Tov, G.B. 2018. The Impact of Delay Announcements on Hospital Network Coordination and Waiting Times. Management Science, (July): 0–26.
  • Evans, M.K., Watts, N. & Gratton, R. 2015. Women’s Satisfaction With Obstetric Triage Services. JOGNN - Journal of Obstetric, Gynecologic, and Neonatal Nursing, 44(6): 693–700. http://dx.doi.org/10.1111/1552-6909.12759.
  • Ortiz Barrios, M.A. & Felizzola Jiménez, H. 2016. Use of Six Sigma Methodology to Reduce Appointment Lead-Time in Obstetrics Outpatient Department. Journal of Medical Systems, 40(10): 220. http://link.springer.com/10.1007/s10916-016-0577-3 22 May 2019.
  • Rönnerstrand, B. & Oskarson, M. 2018. Standing in Line When Queues Are on the Decline: Services Satisfaction Following the Swedish Health Care Waiting Time Guarantee. Policy Studies Journal. http://doi.wiley.com/10.1111/psj.12277 22 May 2019.

Add comment


Security code
Refresh