Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran 2026
Setiap tanggal 3 Maret, Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran atau World Hearing Day yang diinisiasi oleh World Health Organization (WHO) diperingati untuk menegaskan pentingnya kesehatan telinga dan pendengaran secara global. Pada tahun 2026, peringatan ini tidak hanya sekadar menjadi momentum edukasi tetapi juga ajakan untuk memperkuat deteksi dini, pencegahan, dan akses terhadap layanan pendengaran yang berkualitas.
Menurut World Report on Hearing, WHO memperkirakan terdapat sekitar 34 juta anak di dunia yang memiliki disabilitas gangguan pendengaran. Gangguan ini diketahui menyebabkan dampak yang luas mulai dari keterlambatan bicara dan bahasa, akademik, serta keterbatasan produktivitas kerja di masa depan. Secara global, gangguan pendengaran menyumbang lebih dari 13 juta Disability Adjusted Life Years (DALYs) setiap tahunnya. Tanpa intervensi yang tepat, dampak gangguan pendengaran dalam jangka panjang tidak hanya dirasakan individu dan keluarga tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam penanganan dampak gangguan pendengaran, tantangan utama yang ditemukan contohnya seperti keterbatasan tenaga terlatih, mahalnya harga alat bantu pendengaran, dan rendahnya kesadaran masyarakat.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian utama adalah meningkatnya risiko gangguan pendengaran pada remaja akibat paparan kebisingan. Satu miliar anak muda di dunia diperkirakan berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat praktik mendengarkan yang tidak aman, baik ketika berada lingkungan luar maupun menggunakan perangkat audio pribadi. Studi pada remaja Korea Selatan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa penggunaan earphone di lingkungan bising meningkatkan risiko gangguan pendengaran hingga 4,5 kali lipat. Oleh karena itu, kampanye edukasi tentang safe listening, pembatasan durasi penggunaan, serta perlindungan telinga menjadi semakin relevan dalam konteks digital saat ini.
Selain remaja, kasus pada anak-anak juga cukup menjadi perhatian dengan kondisi Otitis Media with Effusion (OME) atau “glue ear” yang dialami hingga 80% anak. Kondisi ini sering bersifat fluktuatif dan dapat mengganggu proses belajar membaca, serta interaksi sosial. Tanpa deteksi dan dukungan yang memadai, anak dapat mengalami kecemasan, penurunan kepercayaan diri, serta penurunan akademik jangka panjang. Selain itu, di berbagai negara berkembang, Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) masih menjadi beban besar dengan jutaan kasus aktif yang berkontribusi pada disabilitas pendengaran global.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, WHO melalui jaringan World Hearing Forum mendorong pendekatan komprehensif yang dirangkum dalam prinsip “HEARING”: Hearing screening and intervention, Ear disease prevention, Access to technologies, Rehabilitation, Improved communication, Noise reduction, dan Greater community engagement. Pendekatan ini menekankan pentingnya skrining dini, pencegahan infeksi telinga, akses teknologi bantu dengar yang terjangkau, rehabilitasi, serta pelibatan keluarga dan komunitas.
Momentum Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa gangguan pendengaran dapat dicegah dan ditangani jika dideteksi lebih awal dan didukung kebijakan yang kuat. Tenaga kesehatan, institusi pendidikan, pembuat kebijakan, hingga keluarga memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang ramah pendengaran. Melalui edukasi, skrining rutin, praktik mendengarkan yang aman, serta akses terhadap teknologi bantu, kita dapat memastikan setiap anak dan individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkomunikasi, dan berkembang secara optimal.
Sumber:
- World Health Organization. World Hearing Day 2026. WHO Campaigns; 2026. https://www.who.int/campaigns/world-hearing-day/2026
- Holland Brown T, Chadha S. Ear and hearing health in children. Paediatrics and Child Health. 2024;34(5):166–170
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)









