Learn, Connect, Growth | Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Indonesia

Ketika Menjadi Pasien, Waktu Tunggu Pengalaman Menjadi Pasien Bedah

oleh Rita Novita /18/433545/PKU/17458

Setiap individu tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menjadi pasien, menjadi pasien artinya sakit atau menderita sakit, namun setiap individu tidak dapat menolak jika suatu penyakit terjadi pada dirinya. Pengalaman menjadi seorang pasien pernah saya alami, kenyataannya saya tidak pernah menyangka dan siap untuk menjadi pasien, kondisi tersebut suka tidak suka harus saya terima.

Dimulai dengan keluhan saya sering mengalami demam atau suhu tubuh meningkat setiap saya dalam kondisi lelah, keadaan tersebut tidak terlalu saya perhatikan karena saya pikir kondisi demam itu merupakan hal biasa apalagi saya dalam kondisi lelah, maklum orang kesehatan jadi kalau sakit agak bergaya hal tersebut biasa. Suatu hari setelah jangka waktu 1 bulan yang lalu saya mengalami demam kembali saya diserang demam tinggi di sertai nyeri perut bagian kanan bawah, keadaan ini membuat saya sangat tidak nyaman saya hanya minum obat yang memang selalu saya sediakan dirumah yaitu paracetamol, setelah 3 jam suhu tubuh memang mulai turun namun nyeri perut bagian kanan bawah belum berkurang, saya masih positif thinking ini hanya sakit biasa dan saya coba bawa istirahat dan tidur. Pada pukul delapan malam nyeri perut saya semakin menjadi dan saya mulai tidak tahan dengan rasa nyeri itu disertai suhu tubuh saya juga meningkat, saya memberitahukan suami kalau saya tidak tahan dengan nyeri yang ada di bagian perut kanan bawah serta tidak bisa tiduran telentang karena akan terasa tambah nyeri.

Melihat keadaan seperti itu suami saya menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit tapi saya masih agak ragu dan berharap rasa sakit ini dapat hilang tanpa harus dibawa ke Rumah Sakit, namun suami saya agak memaksa hingga akhirnya saya ikuti saja perintah suami untuk dibawa ke Rumah Sakit.

Sampailah di Rumah Sakit yang jaraknya hanya sepuluh menit dari rumah kami. Karena saya karyawan rumah sakit tentu saja semua teman-teman yang ada di Rumah Sakit sangat kenal dengan saya, sehingga tindakan yang dilakukan oleh teman-teman cepat dan tanggap, dokter jaga langsung mengkonsulkan dengan dokter spesialis tentang keluhan yang saya derita, sejenak terpikir jika saya bukan orang kesehatan akankah teman-teman saya akan melakukan tindakan yang menurut saya sangat tanggap seperti ini???. Setelah dokter jaga melaporkan kondisi saya yang kenyataannya saya dicurigai menderita penyakit usus buntu atau Appendicitis setelah dilakukan pemeriksaan lengkap dan dilaporkan, akhirnya saya disarankan untuk rawat inap di Rumah Sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang sakit saya pada esok hari oleh dokter spesialis bedah. Mendapat kenyatan saya harus rawat inap kembali perasaan khawatir muncul, sepertinya parah sekali kalau saya harus menginap, ternyata pada posisi menjadi orang sakit memang tidak menyenangkan. Status saya sebagai orang kesehatan kembali menguntungkan dengan sedikit negosiasi dengan dokter jaga dan keadaan saya agak lumayan karena telah diberikan suntikan penghilang nyeri sudah mulai dapat mengurangi rasa nyeri dan demam yang saya derita, akhirnya saya di ijinkan pulang dengan catatan esok hari harus konsul dengan dokter spesialis bedah untuk pemeriksaan lebih lanjut dan saya menyetujui.

Esok hari kondisi saya mulai membaik namun rasa tidak nyaman masih terasa di bagian perut kanan bawah saya masih terasa, saya menemui dokter spesialis bedah dengan membawa hasil laboratorium dan menceritakan kembali kondisi saya kemarin, kemudian dokter melakukan pemeriksaan fisik pada saya serta melakukan pemeriksaan USG dan benar bahwa appendic saya mengalami pembengkakkan dan dianjurkan untuk dilakukan operasi, sejujurnya saya takut mendengar kata operasi padahal saya tahu bahwa operasi Appendictomi merupakan operasi kecil dan seperti pengalaman saya yang bekerja di Rumah Sakit jika sudah dilakukan operasi jarang terjadi komplikasi yang lebih lanjut kecuali jika terjadi appendicitis perforasi, namun tetap saja rasa takut menghantui saya.

Keesokan harinya jadwal operasi sudah ditetapkan dengan berbagai prosedur yang sudah saya jalankan, tibalah hari operasi kalau bisa pulang ingin rasanya saya membatalkan operasi tersebut, muncul dalam pikiran saya bagaimana kalau terjadi apa-apa, kalau anasthesinya bermasalah saya bagaimana, kalau saya mati di meja operasi bagaimana, seribu satu pertanyaan datang dikepala saya, lalu saya didorong ke kamar operasi yang sebelumnya saya sudah dipasang infus sebagai prosedur tetap kembali muncul dalam pikiran nanti kalau abis operasi terjadi infeksi bagaimana, ternyata orang kesehatan dan bukan kesehatan tetap saja gugup kalau mau dilakukan operasi. Dokter dan teman-teman dikamar operasi mungkin tahu kecemasan saya, mereka tetap mensuport dan menenangkan saya bahwa prosedur opersainya tidak lama dan saya diberitahukan apa saja yang akan dilakukan kemudian, penjelasan dokter serta tim tersebut cukup membuat tekanan darah saya tidak naik karena cemas selanjutnya saya sudah tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh dokter dan tim karena saya sudah dalam keadaan tidak sadar.

Pada saat saya membuka mata saya sudah diruang perawatan ternyata operasi sudah lama selesai sekitar empat sampai lima jam yang lalu, bersyukur yang saya khawatirkan tidak terjadi dan saya masih hidup. Pagi selanjutnya setelah saya dilakukan tindakan operasi saya diijinkan pulang dan berita tersebut sangat membuat saya lega, pengalaman menjadi pasien memang tidak menyenangkan namun menjadi pasien adalah kondisi yang tidak bisa dihindarkan, meyakinkan pasien bahwa tindakan yang akan dilakukan adalah prosedur yang aman sangatlah penting dan membuktikan bahwa yang telah dilakukan memang aman adalah kondisi yang seharusnya memang menjadi budaya bagi suatu layanan rumah sakit, mampu membuktikan bahwa mutu dan keselamatan pasien adalah prioritas utama. Timeliness yang saya rasakan pada saat menjadi pasien cukup memuaskan karena semua prosedur yang dilaksanakan oleh tim kamar operasi dan tim perawatan cukup efisien dan dalam waktu 2 kali 24 jam dari saya mengalami keluhan sampailah saya sudah diperbolehkan pulang pasca operasi Appendictomie, saya juga tidak tahu apakah karena saya orang kesehatan atau ada faktor lain, semoga pelayanan seperti ini diberikan pada seluruh pasien tanpa memandang status nya seperti apa.

Add comment


Security code
Refresh